By Letto
Ku buka mata dan ku lihat dunia
‘tlah ku terima anugerah dunia
Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati
Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan hati
Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang dalam hati
Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti
Kapan saja disaat keinginan tidak terwujud, disaat harapan tidak menjadi kenyataan, saat itulah kekecewaan datang menghujam. Kapan saja kekecewaan datang selalu disertai dengan rasa sakit dan perih. Selalu begitu sepanjang hidup. Menerima kekecewaan, kegagalan, dan kekalahan perlu proses belajar tersendiri, perlu manajemen hati. Tidak mudah menerima kekalahan, kegagalan dan kekecewaan. Apalagi mengelola kesedihan itu menjadi suatu pencerahan dalam hati. Kemudian menjadikan segala kesedihan itu menjadi berkah yang berarti. Sebab menjadi ikhlas, menjadi ridho atas segala kejadian yang menimpa diri, terutama kegagalan, kesedihan dan kekalahan tidaklah semudah mengatakannya.
Sejak kecil aku telah belajar, bahwa tidak mungkin aku mendapatkan semua yang ku inginkan. Karena aku tahu bahwa tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada sesuatupun yang sempurna. Sejak kecil aku belajar atau lebih tepatnya terpaksa harus belajar, mengelola kekecewaan untuk tidak menggulungku, menenggelamkan diri dalam kepedihan. Dan aku belajar bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diriku suatu saat nanti pasti ada hikmahnya, aku juga selalu yakin bahwa kepedihan, seberapa dalamnya itu dikemudian hari akan terganti, aku juga tahu bahwa kehidupan itu memiliki dua sisi yang saling melengkapi.
Sungguh bukanlah pekerjaan mudah untukku mengelola kekecewaan, apalagi kalau kekecewaan itu menorehkan luka hati didalamnya. Pedih, perih dan sakit. Tambah sulit lagi apabila kekecewaan itu datang berbarengan satu sama lain. Saling menumpuk, menghantam, menyudutkan. Harus aku akui jangankan mengelola kekecewaan itu dengan benar, terkadang untuk bernafaspun demikian sulit. Aku seperti berada dalam lorong gelap yang panjang, dingin, licin, tanpa cahaya, tanpa pegangan. Tertatih-tatih, tersuruk-suruk aku berjalan, dengan segala keyakinan bahwa sepanjang apapun lorong itu, segelap apapun semua akan ada akhirnya. Akan ada ujung dari perjalanan yang menyakitkan, selalu ada cahaya dalam kegelapan. Aku tahu itu. Karena itu aku selalu memohon padaNya untuk diberi cahayaNya dalam keadaan gelap sekalipun. Karena aku tahu hidup tidak selalu terang benderang bermandikan cahaya bintang, bulan, dan matahari. Ada waktunya gelap datang, ada saatnya gerhana menimpa. Dalam kondisi itulah aku masih memiliki cahaya. Cahaya dihati, yang akan mengiringi langkah-langkah kakiku menyusuri lorong gelap yang panjang, dingin dan licin. Cahaya itu tidak akan menyala sendiri, harus terus digosok, digali, dibersihkan agar tetap benderang.
Dalam perjalanan hidup ada waktunya kekecewaan tergantikan dengan kebahagian seperti matahari yang mengikis habis air hujan yang tersembunyi dalam setiap lekuk daun. Tetapi adakalanya kekecewaan itu walaupun terganti dan terhapus masih meninggalkan luka yang dalam. Memberikan bekas lubang yang menganga. Lubang itu begitu sulit tertutupi. Berpayah-payah mencari pengisinya. Itulah lubang dihati. Dan aku tahu ada lubang dihatiku, yang teramat sulit aku tutupi, telah sepanjang perjalanan hidup aku mencari tanpa henti, aku mencari apapun yang mampu melengkapi lubang itu. Lelah, sakit, telah meremuk redam diriku, tapi tidak akan sedetikpun aku surut, tidak berhenti aku mencari.
Yah...aku akan terus mencari apapun yang mampu melengkapi lubang dalam hatiku. Di sepanjang langkahku. Tidak mungkin ada bahagia yang sempurna, aku tahu itu, setiap apapun selalu ada sebentuk pengorbanan, sebuah pajak yang harus dibayar. Tetapi aku yakin kekecewaan, kesedihan, kegagalan, kekalahan dan apapun itu terkadang memang diperlukan. Bukankah kebahagian akan terasa lebih setelah merasakan kesedihan. Dalam kesedihan, dalam kegelapan juga memaksaku untuk instropeksi diri, mengajakku menoleh kebelakang untuk melihat kesalahan. Kesedihan juga sebagai proses pematangan jiwa. Dalam segala yang telah aku lalui ini aku berharap ini semua menjadi pajak yang harus aku bayar untuk apapun yang aku inginkan. Aku juga berharap semua yang telah aku lewati ini sebagai proses pematangan diri, sebagai tangga-tangga yang akan mengantarkanku untuk menemukan sesuatu yang mampu melengkapi lubang di hati, mengantarkanku pada penemuan keping-keping puzzle kehidupanku, yang masih tercecer, masih berserakan. Serta memberikan cahaya yang selalu menyinari disepanjang hidupku, yang mampu mengisi lubang dihatiku. Semoga....




