Saturday, May 30, 2009

Lubang Di Hati

By Letto

Ku buka mata dan ku lihat dunia
‘tlah ku terima anugerah dunia
Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati
Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan hati

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang dalam hati

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti

Kapan saja disaat keinginan tidak terwujud, disaat harapan tidak menjadi kenyataan, saat itulah kekecewaan datang menghujam. Kapan saja kekecewaan datang selalu disertai dengan rasa sakit dan perih. Selalu begitu sepanjang hidup. Menerima kekecewaan, kegagalan, dan kekalahan perlu proses belajar tersendiri, perlu manajemen hati. Tidak mudah menerima kekalahan, kegagalan dan kekecewaan. Apalagi mengelola kesedihan itu menjadi suatu pencerahan dalam hati. Kemudian menjadikan segala kesedihan itu menjadi berkah yang berarti. Sebab menjadi ikhlas, menjadi ridho atas segala kejadian yang menimpa diri, terutama kegagalan, kesedihan dan kekalahan tidaklah semudah mengatakannya.

Sejak kecil aku telah belajar, bahwa tidak mungkin aku mendapatkan semua yang ku inginkan. Karena aku tahu bahwa tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada sesuatupun yang sempurna. Sejak kecil aku belajar atau lebih tepatnya terpaksa harus belajar, mengelola kekecewaan untuk tidak menggulungku, menenggelamkan diri dalam kepedihan. Dan aku belajar bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diriku suatu saat nanti pasti ada hikmahnya, aku juga selalu yakin bahwa kepedihan, seberapa dalamnya itu dikemudian hari akan terganti, aku juga tahu bahwa kehidupan itu memiliki dua sisi yang saling melengkapi. Ada gelap ada terang, ada siang ada malam, ada sedih ada bahagia. Seperti daun tua yang gugurpun selalu tergantikan oleh pucuk-pucuk daun yang hijau, segar dan siap menghadapi siklus hidup yang baru. Begitulah kehidupan terus berputar, terus melaju.

Sungguh bukanlah pekerjaan mudah untukku mengelola kekecewaan, apalagi kalau kekecewaan itu menorehkan luka hati didalamnya. Pedih, perih dan sakit. Tambah sulit lagi apabila kekecewaan itu datang berbarengan satu sama lain. Saling menumpuk, menghantam, menyudutkan. Harus aku akui jangankan mengelola kekecewaan itu dengan benar, terkadang untuk bernafaspun demikian sulit. Aku seperti berada dalam lorong gelap yang panjang, dingin, licin, tanpa cahaya, tanpa pegangan. Tertatih-tatih, tersuruk-suruk aku berjalan, dengan segala keyakinan bahwa sepanjang apapun lorong itu, segelap apapun semua akan ada akhirnya. Akan ada ujung dari perjalanan yang menyakitkan, selalu ada cahaya dalam kegelapan. Aku tahu itu. Karena itu aku selalu memohon padaNya untuk diberi cahayaNya dalam keadaan gelap sekalipun. Karena aku tahu hidup tidak selalu terang benderang bermandikan cahaya bintang, bulan, dan matahari. Ada waktunya gelap datang, ada saatnya gerhana menimpa. Dalam kondisi itulah aku masih memiliki cahaya. Cahaya dihati, yang akan mengiringi langkah-langkah kakiku menyusuri lorong gelap yang panjang, dingin dan licin. Cahaya itu tidak akan menyala sendiri, harus terus digosok, digali, dibersihkan agar tetap benderang.

Dalam perjalanan hidup ada waktunya kekecewaan tergantikan dengan kebahagian seperti matahari yang mengikis habis air hujan yang tersembunyi dalam setiap lekuk daun. Tetapi adakalanya kekecewaan itu walaupun terganti dan terhapus masih meninggalkan luka yang dalam. Memberikan bekas lubang yang menganga. Lubang itu begitu sulit tertutupi. Berpayah-payah mencari pengisinya. Itulah lubang dihati. Dan aku tahu ada lubang dihatiku, yang teramat sulit aku tutupi, telah sepanjang perjalanan hidup aku mencari tanpa henti, aku mencari apapun yang mampu melengkapi lubang itu. Lelah, sakit, telah meremuk redam diriku, tapi tidak akan sedetikpun aku surut, tidak berhenti aku mencari.

Yah...aku akan terus mencari apapun yang mampu melengkapi lubang dalam hatiku. Di sepanjang langkahku. Tidak mungkin ada bahagia yang sempurna, aku tahu itu, setiap apapun selalu ada sebentuk pengorbanan, sebuah pajak yang harus dibayar. Tetapi aku yakin kekecewaan, kesedihan, kegagalan, kekalahan dan apapun itu terkadang memang diperlukan. Bukankah kebahagian akan terasa lebih setelah merasakan kesedihan. Dalam kesedihan, dalam kegelapan juga memaksaku untuk instropeksi diri, mengajakku menoleh kebelakang untuk melihat kesalahan. Kesedihan juga sebagai proses pematangan jiwa. Dalam segala yang telah aku lalui ini aku berharap ini semua menjadi pajak yang harus aku bayar untuk apapun yang aku inginkan. Aku juga berharap semua yang telah aku lewati ini sebagai proses pematangan diri, sebagai tangga-tangga yang akan mengantarkanku untuk menemukan sesuatu yang mampu melengkapi lubang di hati, mengantarkanku pada penemuan keping-keping puzzle kehidupanku, yang masih tercecer, masih berserakan. Serta memberikan cahaya yang selalu menyinari disepanjang hidupku, yang mampu mengisi lubang dihatiku. Semoga....

Thursday, May 14, 2009

Jejak Merpati



Aku rindu pada diriku sendiri. Rindu pada sosokku yang telah lewat bertahun-tahun lalu. Pada kehidupanku yang telah berlalu. Kehidupan yang dulu sering aku keluhkan, kehidupan yang dulu tidak aku syukuri, kehidupan yang aku lalui tanpa sesuatu yang bermakna, tanpa aku isi dengan sesuatu yang memiliki arti. Tetapi justru baru kusadari setelah semua terjadi, setelah semua lewat. Sesal selalu datang dikemudian hari bukan?
Karena itu, hari ini aku berjanji untuk melewati hari-hari tersisa yang masih bisa kumiliki dengan mengisinya menjadi lebih berarti, lebih bermakna. Aku tidak mau rasa sesal ini akan terulang di kemudian hari. Tetapi ijinkanlah aku mengenang kembali masa-masa itu. Masa-masa yang ternyata indah di kemudian hari. Masa-masa kebebasan baik dari segi waktu maupun finansial. Masa-masa kebebasanku. Masa-masa sebebas merpati.
Dulu saat aku masih sendiri, ketika aku bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhanku sendiri aku begitu bebas mengisi hari. Seperti merpati terbang tinggi, bebas lepas kemanapun sayapnya berkepak. Bebas memiliki hari dan hidupnya untuk diri sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang protes tidak ada yang membebani. Merpati itu terbang kesana kemari, mencari makna diri, mencari arti diri.
Tetapi kemanapun merpati pergi, dia akan meninggalkam jejak diri. Jejak-jejak yang terukir pasti. Jejak yang seharusnya nanti menjadi pelajaran yang berarti. Pelajaran tentang pencarian makna diri, pelajaran tentang arti diri, pelajaran tentang pencapaian dirinya. Pencapaian dalam hidupnya. Ternyata kemanapun merpati terbang tinggi, makna diri dan arti diri belumlah terhenti. Saat ini merpati masih terus terbang kian kemari, karena arti diri barulah tercapai setelah merpati itu tidak mungkin lagi terbang, setelah sayapnya tidak mampu berkepak, setelah sepasang kakinya tidak lagi meninggalkan jejak, setelah paruhnya tidak lagi menghela nafas.
Selama masih bernyawa merpati akan selalu meninggalkan jejaknya. Jejak yang boleh dilihat kembali, boleh ditengok lagi untuk dipelajari kembali. Untuk bekal menempuh jalan kehidupan yang terus berputar , bermacam rasa, beraneka warna, berjuta rupa, namun jejak merpati akan terukir lebih baik lagi. Sebab terkadang segala sesuatu baru terasa indahnya, terasa berarti setelah semua terlewati. Setelah semua terlepas. Dan janganlah sesal selalu terulang lagi, dan lagi. Belajarlah kembali dari jejak merpati.

Tuesday, May 12, 2009

Rasa Itu Bernama Marah


Aku marah
Kepada nasibku
Pada keadaanku
Pada hidupku
Pada keputusanku
Aku marah
Kepada semua yang terjadi padaku
Pada segala sesuatu yang tidak seperti keinginanku
Kenapa semua beban ini ditimpakan kepadaku
Kenapa segala duka ini harus aku tanggung
Karena aku merasa semua sudah diluar kesanggupanku.
Perasaan marah itu
Laksana gunung berapi yang meletus, memuntahkan lahar panas, batu, kerikil tajam dan menerbangkan abu vulkanik ke segala penjuru
Perasaan marah itu
Bagaikan arus listrik ribuan watt yang membuat rambutku bisa berdiri tegak lurus seperti ditumbuhi ribuan tanduk
Perasaan marah itu
Berwajah seperti api yang membakar hutan hijau, menghanguskan seluruh daun dan pohon.
Perasaan marah itu
Bagaikan gelombang dahsyat yang meluluh lantakkan apapun yang ada, menerjang, menyeret dan menghempas.
Perasaan marah itu
Menghancurkan seluruh benteng pertahananku, meluluh lantakkan diriku, meleburku, menggulungku, menghancurkan diriku, serta menjadikan diriku tiada daya terkubur dalam gemuruh bara rasa marah.
Oh...Ya Allah
Duhai Yang Maha pengasih, yang ampunanMu lebih dahsyat dari kemarahanku
Duhai Yang Maha Penyayang, yang RahmatMu tiada berbatas,
Tolonglah....
Hilangkanlah segala sebab yang menjadikan hambaMu ini berkeluh kesah, cemas, takut, sedih dan marah.
Jadikanlah hamba, manusia yang pandai bersyukur dalam keadaan sempit dan lapang.





Friday, May 08, 2009

Kupu-kupu Tanpa Warna


Aku bermimpi. Dalam mimpi, aku seperti tengah berada dalam geladak sebuah kapal yang sangat besar. Dalam geladak yang luas itu aku melihat berbagai macam orang yang sedang asyik melakukan kegiatan sendiri-sendiri. Diantara orang-orang itu aku melihat Mbah Putriku yang sudah meninggal dunia sedang membatik sebuah kain panjang. Kegiatan yang kerap dilakukan ketika almarhumah masih hidup. Aku segera menghampiri Mbah Putri, Kami tidak saling bertukar kata, aku hanya melihat Mbah Putri sedang membatik. Mbah Putriterlihat sumringah dan gembira. Disaat aku sedang melihat Mbah Putri membatik, tiba-tiba terdengar bunyi peluit kapal yang keras. Sebagai tanda kapal siap berangkat. Aku segera berpamitan kepada Mbah Putri bahwa aku harus turun. Mbah Putri hanya melambaikan tangan sambil tersenyum dan menyuruhku cepat-cepat turun dari kapal. Kemudian aku berlari kencang meninggalkan kapal itu.
Saat aku tiba di anjungan kapal aku melihat Anisa sedang berdiri sendirian ditengah anjungan. Aku menghampirinya, Anisa mengenakan seragam sekolahnya dan berdiri ditengah rintik hujan sambil menatapku tanpa kata-kata. Tatapan matanya sungguh tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidup. Tetapi aku tidak bisa memahami sepenuhnya apa yang tersirat dalam tatapan mata itu, seperti ada kesedihan, keraguan juga tatapan yang serasa jauuuuh menatap ke depan. Tatapan itu begitu menusuk hatiku, aku ingin menangis, memeluknya tapi saat itu hujan bertambah deras dan kapal sudah hampir diberangkatkan. Aku hanya bisa mengelus bahunya dan berkata membujuk “ Ayo..Nisa masuk, nanti kamu sakit”. Anisa hanya menatapku tanpa bergeming. Terdengar bunyi peluit sekali lagi, dan aku langsung melompat karena takut terbawa kapal. Sesaat setelah aku melompat aku menoleh ke belakang aku lihat kapal sudah berangkat. Anisa sudah tidak ada lagi. Dan akupun terbangun dengan perasaan capek, sedih, menyesal dan berbagai perasaan berkecamuk di hatiku. Waktu aku bermimpi itu belumlah seminggu sejak Anisa meninggal.

Anisa adalah keponakanku yang meninggal pada usia hampir sepuluh tahun karena penyakit Thalasemia Mayor yang dideritanya. Sebenarnya mengenang Anisa seperti menyenandungkan kidung kesedihan. Kisah hidupnya adalah Elegi. Hidup Anisa sesendu tatapan matanya. Anisa merupakan anak dari adikku, yang kehadirannya justru disambut dengan keterpaksaan. Adikku dan suaminya yang terpaksa menjalani pernikahan dini belum siap menjadi orang tua ketika Anisa hadir di tengah kehidupan meraka. Kehadiran Anisa justru seperti menjadikan beban bagi kehidupan remaja kedua orang tuanya. Karena sikap kedua orang tuanya itulah akhirnya Anisa diasuh dan dibesarkan oleh ibuku. Sehingga untukku Anisa lebih seperti adik sendiri ketimbang sebagai keponakan.

Dalam asuhan ibuku Anisa lebih terawat dan tumbuh dengan baik. Tetapi pertumbuhan Anisa tidak sesehat dan sepesat anak-anak lainnya. Dia sering sekali sakit, mudah panas, gampang batuk pilek dan sebagainya. Waktu itu Kami hanya menyangka karena Anisa tidak pernah mendapatkan Asi maka otomatis kekebalan tubuhnya tidak sebaik anak yang mendapatkan asi. Anisa sering terlihat pucat, lemas serta tidak energik seperti balita lainnya. Kadar hemoglobinnyapun cenderung rendah. Setelah menjalani banyak pemeriksaan dan tes darah Anisa dinyatakan mengindap thalasemia mayor sebelum genap usianya empat tahun. Sejak itulah kehidupannya sebagai penderita thalasemia mayor harus dilewati, Anisa harus menjalani serangkaian transfusi darah yang rutin setiap bulannya. Sampai pada suatu hari kondisi tubuhnya terus menurun, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi sumsum tulang belakang. Semenjak operasi keadaannya lebih membaik. Transfusi darah mulai berkurang frekuensinya.

Walaupun dalam kondisi sakit Anisa masih rajin sekolah, bahkan dia termasuk murid yang pandai dikelasnya. Tentu saja karena kondisinya dia tidak bisa beraktivitas seperti teman-temannya. Selain itu karena penyakitnya dia terbiasa dilarang ini itu mengakibatkan Anisa tumbuh menjadi gadis kecil yang cenderung pendiam, tidak ekspresif, pemalu dan kurang inisiatif. Dia jarang terlihat ceria, kecuali dengan teman-teman yang benar-benar sudah akrab dihatinya. Anisa juga tertutup. Tetapi dia begitu lembut hati dan sangat mengalah. Secara fisik dan mental Anisa sangat menderita. Dia sakit lahir dan batin. Dalam masa kecilnya dia diasuh oleh Eyangnya, kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya, harus menyaksikan pertengkaran terus menerus antara kedua orang tuanya. Dia lebih banyak mendapat perhatian dari Eyangnya dan kami bude-budenya. Kedua orang tuanya lebih peduli pada pertikaiannya sendiri, yang akhirnya berakhir dengan perceraian.

Karena kondisinya itulah maka ibuku dan kami, para Bude dan Pak De-nya jadi sangat menyayangi Anisa. Aku sendiri ikut menyaksikan pertumbuhan Anisa walaupun tidak banyak berpartisipasi, karena aku juga sibuk dengan kehidupan sendiri. Tetapi aku kadang membantu menjaganya, mengajaknya jalan-jalan membacakan buku cerita dan sebisa mungkin memberi warna bagi hidupnya. Setelah aku mempunyai penghasilan sendiri aku juga sering membelikannya mainan, sepatu, baju serta buku-buku. Aku sering mengodanya dengan julukan ‘Anisa AnGot’. “Kenapa AnGot, Bude?” tanyanya waktu itu. “AnGot itu Anak Gotong Royong.” Jawabku “ Soalnya yang beliin baju, bayar sekolah, buku-buku mainannya Nisa itu secara gotong royong. Rame-rame semua iuran, Kakung, Eyang, Pak De Yuk, Bude Upik, Bude Uut dan Bude Ayi.” Anisa tertawa gembira dijuluki AnGot “ Semua sayang aku ya, Bude?” Hatiku membiru mendengarnya. Setiap Lebaranpun kami semua selalu membelikan baju baru, sepatu baru dan sebagainya. Akhirnya Anisa jadi anak paling kaya setiap lebaran dibanding keponakan-keponakan yang lain. Kami keluarga besar sayang padanya. Anak-anak kami juga akrab dengannya karena mereka hampir sebaya.

Seminggu sebelum Anisa meninggal aku sempat pulang, bertemu dengannya. Dia sehat walaupun lebih kurus dan perutnya lebih membuncit. Dia banyak bersamaku dan anak-anak kalau aku datang ke rumah ibu. Karena kalau datang, aku selalu mengajaknya jalan-jalan, sekedar keliling kota, beli jajanan, mainan, dan sebagainya. Anisa juga akrab dengan ketiga anakku. Tetapi aku ingat waktu itu, saat aku datang dia kecewa karena aku tidak mengajak anak sulungku yang akrab sekali dengannya. Dia kecewa tetapi seperti biasa dia sangat ‘nrimo’ dan cenderung menyimpan sendiri perasaannya. Aku sedih tetapi juga tidak terlalu memperhatikannya karena saat itu anak bungsuku yang baru dua tahun sakit panas. Aku tidak sempat mengajaknya jalan-jalan seperti biasa, Tetapi malah mengajaknya ke dokter ikut memeriksakan anakku. Saat beli obat aku ingat aku hanya membelikannya jajan sekedarnya, padahal biasanya aku selalu mengajaknya makan-makan di Alun-alun tempat wisata kuliner malam hari di kota kami. Tetapi karena anakku sakit maka malam itu kami langsung pulang. Yah...kalau saja aku tahu itulah saat terakhir aku bersamanya, saat terakhir aku melihat. Kalau saja aku tahu.

Manusia memang tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Tak ada yang menyangka Anisa akan meninggal, saat itu dia tergolong sehat sebagai anak penderita thalasemia mayor. Dia masih masuk sekolah seperti biasa, Sampai pada hari Sabtu pagi tanggal 5 Maret 2005, Anisa merasa perutnya sakit. Jadi dia tidak masuk sekolah. Dia mengeluh pada ibuku perutnya sakit, padahal biasanya Anisa jarang mengeluh. Dia anak yang sangat tabah, cenderung tahan sakit, tidak rewel dan dia jarang mengeluh. Tetapi sore harinya sakitnya makin parah, dia terus menerus muntah-muntah. Kemudian ibuku membawanya ke rumah sakit. Makin malam kondisinya tidak membaik, akhirnya rumah sakit merujuk agar Anisa dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya. Dari rumah sakit Purworejo Anisa dirujuk ke RSU Dr. Sardjito di Yogya. Akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat Anisa dibawa menuju Yogya. Manusia boleh berusaha tetapi Allah yang menentukan. Dalam perjalanan menuju Yogya itulah Anisa menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dari keterangan dokter yang memeriksa kematiannya, limpa dalam tubuh Anisa pecah. Itulah sebabnya dia mengalami muntah-muntah. Limpa Anisa pecah karena mengalami pembengkakan yang disebabkan penumpukan zat besi saat transfusi darah. Yah….Anisa sudah terlalu lelah berjuang melawan penyakitnya, lelah terus menerus bertaruh nyawa menjalani serangkaian pengobatan, telah cukup penderitaannya. … Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, dan aku yakin itulah yang terbaik untuk Anisa. Itulah obat dari segala sakit yang dia derita di sepanjang perjalanan hidupnya. Anisa di panggil kembali kepadaNya hanya dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke sepuluh. Dia belumlah akil baliq, dia masih suci. Dan aku percaya dia akan menjadi bidadari penghuni surga.

Entah kenapa kepergian Anisa menyisakan rasa sesak didadaku, terkadang aku merasa belum memberinya banyak hal, aku belum melakukan yang terbaik untuknya. Aku belum maksimal menolong. Karena itulah aku tidak akan pernah bisa melupakan mimpi yang aku alami. Aku tak pernah bisa melupakan tatapan matanya, yang juga tak bisa kupahami apa maksudnya, tidak bisa kumengerti artinya. Mimpi adalah bunga tidur, kata orang begitu. Aku berharap begitu. Hanya bunga tidur belaka. Karena aku telah mengikhlaskan kepergiannya. Aku yakin itu yang terbaik untuknya. Itulah obat dari segala sakit yang telah dideritanya. Anisa telah tiada, tetapi bagiku Anisa meninggalkan kenangan tersendiri. Kenangan tentang perjalanan hidup gadis kecil yang tabah dan nrimo. Gadis kecil yang dalam belia usianya mengalami banyak penderitaan. Dia seperti kupu-kupu dengan sayap lemah terus terbang mencari bunga-bunga sebagai tempat hinggapnya. Kupu-kupu mungil gemulai namun tangguh dan kuat untuk terbang tinggi kesana kemari mencari bunganya. Untukku Anisa adalah kupu-kupu cantik nan gemulai, kupu-kupu mungil yang belum sempurna keindahan warna sayapnya. Kupu-kupu kecil yang kehadiranya memberikan keindahan tersendiri bagi taman bunga. Kupu-kupu yang memberi warna bagi sekitarnya, walaupun dia adalah kupu-kupu tanpa warna.

(In memorian: Anisa Wilujeng Sang Bidadari surga. Maafkan Bude Ayi..ya Nis)

Catatan Kecil Anisa Wilujeng (Almh)

In Memorian Anisa Wilujeng
(29 Mei 1995-06 Maret 2005)

MENGENAL THALASEMIA


Untuk ukuran awam, istilah Thalasemia mungkin masih cukup jarang terdengar. Padahal, di Indonesia sendiri terdapat cukup banyak penderita penyakit kelainan darah yang bersifat diturunkan secara genetik dan banyak terdistribusi di Asia ini, dan data yang ada juga pernah menyebutkan ada sekitar ratusan ribu orang pembawa sifat thalasemia yang beresiko diturunkan pada anak mereka, serta data lain yang menemukan bahwa 6-10% penduduk kita merupakan pembawa gennya.

Penderita thalasemia mayor yang kerap dipadankan dengan istilah thalasemia saja di negara kita sendiri sudah tercatat sekitar lima ribu diluar yang belum terdata atau kesulitan mengakses layanan kesehatan. Angka penderita dunia, sementara, jauh lebih besar dengan bandingan anggapan bahwa setiap tahunnya ada seratus ribu penderita baru yang lahir dari pasangan pembawa gen.

Sulitnya pilihan pengobatan dimana pasien biasanya membutuhkan transfusi darah terus menerus untuk memperpanjang hidup, dan tidak sempurnanya kesembuhan yang dicapai membuat kita mungkin perlu sedikit memberi perhatian lebih pada penyakit ini.

Sekilas Tentang Thalasemia

Penyakit thalasemia merupakan suatu kelainan darah bersifat genetik dimana kerusakan DNA akan menyebabkan tidak optimalnya produksi sel darah merah penderitanya serta mudah rusak sehingga kerap menyebabkan anemia.

Pusat dari mekanisme kelainan ini terletak pada salah satu gen pembentuk hemoglobin pada sel darah merah manusia, yang sekaligus juga berfungsi utama sebagai pengangkut oksigen.

Terkait dengan sifat genetik yang diturunkan pendahulunya ini, dikenal istilah 'thalasemia trait' (pembawa sifatnya). Sebagaimana orang-orang normal, individu-individu pembawa gen ini sama sekali tidak menunjukkan adanya suatu gejala. Masalah yang lebih serius akan terjadi bila sang pasangan juga merupakan seorang pembawa sehingga lebih berpotensi melahirkan anak dengan thalasemia mayor yang nantinya akan memerlukan transfusi darah secara rutin selama hidupnya.

Tindakan transfusi ini pun bukan merupakan suatu terapi penyembuh namun hanya bersifat suportif dalam mengurangi gejala dan punya resiko menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh pula, yang lebih lanjut bisa menyebabkan pembengkakan hati dan limpa.

Secara singkat, penjelasannya meliputi keadaan hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe). Kerusakan sel darah merah pada penderita thalasemia akan mengakibatkan zat besi tertinggal di dalam tubuh dan bisa menumpuk dalam organ tubuh seperti jantung dan hati dan lama kelamaan akan mengganggu fungsi organ lainnya, selain juga bisa akibat suplai darah merah dari transfusi, dan ini menjadi penyebab kematian utama dari penderita thalasemia, terutama akibat penumpukan pada jantung.

Selain berpotensi menghasilkan keturunan penderita thalasemia mayor dan juga minor, pasangan pembawa gen ini juga berpotensi lebih besar dalam menghasilkan keturunan berupa thalasemia trait tadi, sehingga dikhawatirkan dapat menambah jumlah penderita secara cukup pesat.

Gejala thalasemia sendiri cukup bervariasi tergantung dari derajat kerusakan gen yang terjadi seperti anemia dengan gejala tambahan pucat, sulit tidur, lemas, kurang nafsu makan atau infeksi yang kerap berulang, kemudian juga jantung yang dipaksa bekerja lebih keras untuk memenuhi pembentukan hemoglobin, serta penipisan atau perapuhan tulang

karena sumsum tulang juga berperan penting dalam memproduksi hemoglobin tersebut.

Pada tampilan yang khas, penderita thalasemia sering memiliki batang hidung melesak ke dalam yang dikenal juga dengan istilah 'facies cooley' dan merupakan salah satu tanda khas thalasemia mayor.

Ada dua jenis thalasemia yang dikenal berdasarkan gejala klinis dan tingkatan keparahannya, yaitu thalasemia mayor dimana kedua orang tuanya merupakan pembawa sifat, serta thalasemia minor dimana gejalanya jauh lebih ringan dan sering hanya sebagai pembawa sifat saja. Pada thalasemia mayor gejala dapat muncul sejak awal masa anak-anak dengan kemungkinan bertahan hidup terbatas. Beberapa kasus yang ditemukan selama ini juga membuat munculnya penggolongan yang lebih baru, yaitu thalasemia intermedia dimana kondisinya berada di tengah-tengah kedua bentuk tersebut.

Deteksi Dini dan Penatalaksanaan

Skrining thalasemia yang sekarang mulai marak dengan banyaknya info dan publikasi mengenai penyakit ini dikenal dengan cara elektroforesis (analisis Hb) serta cara lain yang lebih baru yaitu HPLC (High Performance Liquid Chromatography) karena dianggap lebih akurat dengan keunggulan lainnya.

Deteksi dini terhadap penyakit ini sekarang dianggap para ahli sangat penting karena pertambahan jumlah penderita yang cukup pesat tadi, dan hasil penanganannya juga akan lebih baik ketimbang melakukan skrining ketika perjalanan penyakit telah lanjut. Sasaran pendeteksian adalah anak-anak dengan gejala yang dicurigai, pasangan usia subur serta ibu hamil sebagai syarat pemeriksaan prenatal. Deteksi dapat dilakukan sejak bayi masih di dalam kandungan karena kemungkinan lahirnya penderita dari pasangan pembawa gen sebesar 25 persen tadi.

Kalaupun harus memperhatikan gejalanya terlebih dahulu seperti pucat, gampang lemas dan sebagainya tadi, masih terlalu umum dan dapat terjadi pada banyak penyakit. Begitupun, gejala awal akan dapat terlihat ketika anak berusia 3 hingga 18 bulan.

Sebagian ahli berpendapat, bila tidak ditangani secara serius, anak-anak penderita thalasemia rata-rata hanya dapat bertahan hingga usia 8 tahun saja. Perawatan rutin berupa transfusi rutin terus menerus bisa memperpanjang harapan hidup dengan aktifitas dan kemampuan intelektual sama dengan orang normal, selain perlunya penggunaan obat untuk mengatasi penumpukan zat besi di dalam organ tadi, berupa obat Desferal yang biasa-nya diberikan lewat suntikan di bawah kulit untuk mengikat zat besi dan dikeluarkan melalui urin atau melalui infus.

Terbaru

Sekarang sudah ditemukan pula alternatif lain dari suntikan desferal tadi berupa obat oral (tablet) yang sama kemampuannya dalam mengurangi resiko gagal organ terutama jantung dengan mengurangi penumpukan zat besi tersebut.

Penemuan obat yang diberikan secara oral bagi penderita diatas usia 2 tahun ini, meski masih cukup mahal, paling tidak dapat memberikan harapan baru bagi penderita thalasemia yang selama ini mendapatkan tindakan terapi dengan cara-cara kurang menyenangkan tersebut, sementara menurut banyak ahli di negara maju, tindakan penatalaksanaan terbaik justru ada pada cara cangkok sumsum tulang dimana jaringan sumsum tulang penderita diganti dengan sumsum tulang donor yang cocok dari anggota keluarga, namun kenyataannya masih cukup sulit untuk dilakukan.

( Dikutip: dari Waspada Online by dr. Daniel Irawan)

Friday, May 01, 2009

Wanita dan Kecantikan


Kecantikan dan wanita adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Karena yang dikatakan cantik pasti seorang wanita. Setiap wanita dimana saja, siapa saja pasti ingin dikatakan cantik. Walau begitu tidak ada alat yang pasti untuk mengukur kecantikan. Kecantikan bersifat relatif dan berdasarkan persepsi kebanyakan orang atau masyarakat. Persepsi mengenai kecantikan juga berubah dari waktu ke waktu karena di pengaruhi oleh standar-standar tertentu yang ada dalam masyarakat, yang seringkali mengacu pada model, artis, maupun trend yang sedang berlangsung atau iklan yang ada dalam media-media massa. Sebagai contoh untuk persepsi masyarakat Indonesia saat ini, yang dikatakan cantik biasanya adalah orang yang berkulit putih, berwajah indo dan bertubuh ramping.

Atas nama kecantikan, biasanya wanita juga rela melakukan apa saja. Dari menguras uang di tabungan untuk membeli berbagai produk-produk kosmetik baik yang harganya murah maupun yang mahal, menunggu di salon berjam-jam, bahkan rela menderita kesakitan saat melakukan operasi plastik, perawatan kulit serta tubuh, bahkan terkadang mengabaikan kesehatan dan keselamatan diri hanya untuk dapat dikatakan cantik.

Bicara mengenai kecantikan, pada umumnya kita akan membayangkan tentang keindahan fisik yang tampak indah menawan melalui pandangan mata. Sementara itu menurut Estee Lauder, Kecantikan adalah keinginan menjadi cantik. Tanpa keinginan kecantikan hanyalah sebuah angan-angan (di kutip dari Majalah Femina Edisi Khusus th 2002). Demikianlah kata-kata mutiara dari pemilik perusahaan produk kecantikan ternama di dunia ini. Dari apa yang dikatakan Estee Lauder kita akan mengerti bahwa pada dasarnya kecantikan dapat diupayakan. Jadi setiap wanita mempunyai potensi untuk cantik. Untuk mengupayakan dan mengoptimalkan potensi cantik pada diri kita, maka kita harus pahami betul-betul faktor-faktor yang tidak bisa diubah dalam diri kita (bawaan lahir, seperti bentuk muka, warna kulit, serta tinggi badan) dan faktor-faktor yang bisa diubah (diupayakan) dengan latihan, dan perawatan.

Pada dasarnya kita bisa mengupayakan potensi kecantikan pada diri kita dengan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi kecantikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecantikan yang bisa di perbaiki antara lain adalah pola pikir yang mengacu pada inner beauty, cara bicara, cara berjalan, cara berdandan, cara berpakaian, serta melatih postur tubuh agar menampilkan bahasa tubuh yang positif dan mengetahui dengan benar cara merawat kulit dan tubuh.

Kita juga bisa belajar dari para artis, foto model, maupun selebritis dalam upaya berproses menjadi cantik. Para selebritis itu tidak selalu terlahir langsung cantik dan kinclong seperti itu. Mereka juga berusaha membenahi segala kekurangan pada diri meraka dengan belajar dan berupaya mengoptimalkan seluruh potensi dalam diri mereka untuk bisa tampil cantik. Untuk menjadi cantik tentu kita harus memperbaiki diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin. Mermperbaiki kecantikan lahiriah dapat diupayakan dengan melakukan perawatan tubuh, perawatan wajah, belajar tata rias wajah, memperbaiki cara berpakaian. Dalam arti berpakaian yang sesuai dengan usia, bentuk tubuh, warna kulit, dan kegiatan yang dilakukan. Semakin kita mengenali diri kita semakin kita mengerti bagaimana tampil lebih cantik. Seperti kata Estee Lauder “ Tidak ada wanita yang tidak cantik, yang ada hanyalah wanita yang tidak tahu bagaimana menjadi cantik”

Karena itu sebagai wanita kita harus terus berusaha menggali semua potensi yang ada dalam diri kita. Dengan mengasah potensi diri, kita akan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih percaya diri, lebih bersemangat dan sudah pasti aura kecantikan akan muncul dengan sendirinya.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai.
Wahai...wanita kau menyimpan kecantikan tersendiri di segala usiamu.
Kecantikanmu terpancar dari kematangan pribadimu

Thursday, April 30, 2009

Serahkan Pada TanganNya


Hari ini aku menerima curhat dari sahabatku. Panjaaang dan lama. Sampai-sampai aku sakit kepala, sampai-sampai anak-anakku jumpalitan membuat seisi rumah porak poranda. Meraka begitu heboh, ceria bersemangat karena melihat ibunya asyik menerima telpon. Mereka pikir asyiknya... ibu tidak ngomel, enaknya... ibu tidak marah-marah. Damainya.. ...ibu tidak teriak-teriak melihat segala mainan berserakan, bantal-bantal berhamburan, kartu-kartu ada dimana-mana. Seisi rumah seperti habis gempa, dan kedua anakku berlarian kesana kemari dengan bahagianya. Sedangkan anak perempuanku yang sudah mulai ABG makin asyik melototi televisi tanpa inget kewajiban belajar. Semuanya bebas. Ibu tidak marah. Ibu sedang terima telpon. Ayo..ayo bermain didalam rumah sepuasnya.

Tentu saja aku tidak enak kalau harus interupsi sejenak dari telpon temanku. Mengawasi anak-anakku tidak mungkin hanya interupsi sejenak. Dengan mereka sama saja, telpon lagi nanti malam kalau anak-anak sudah tidur. Yah hari ini hari kebebasan untuk anak-anakku, aku hanya mampu mengawasi sambil mendelik, mengerut, cemberut. Buat anak-anakku itu semua masih lampu kuning, jadi masih ada kesempatan untuk ngebut he..he..he.

Hari ini sobatku terkasih sedang curhat kepadaku tentang segala macam pengorbanan, penderitaan dan perjuangannya sebagai perempuan yang belum berjodoh. Aduh...sungguh-sungguh aku tak menyangka dia akan sesedih itu. Padahal selama ini aku selalu merasa temanku itu hebat, canggih luar biasa. Pokoknya mengagumkan. Sampai aku iri-iri, dan berkhayal menjadi seperti dirinya. Betapa tidak dia wanita mapan, sukses dan hebat di Jakarta. Punya jabatan bagus, karir mapan serta gaji yang membuatku takjub bukan kepalang. Dalam usianya yang 35 tahun, dia mapan sekali dalam hal finansial, makmur, sejahtera sentosa gemah ripah loh jinawi. Aku sering terkagum-kagum melihatnya seperti artis yang pontang-panting, bolak-balik ke luar negeri, dengan segala atribut yang serba bermerek, tercanggih, terkini, terpercaya. Siapa sangka ternyata dia tersiksa dengan keadaannya, yang belum menikah. Aku pikir dia melajang karena pilihannya, karena dia tidak pingin menikah, tidak mau repot mngurusi anak-anak. Dan selama ini dia selalu berkesan masih ada yang kurang, masih ada yang belum beres, masih ada yang harus dikerjakan sehingga belum kepikiran untuk menikah. Selama ini dia juga selalu adem ayem, santai-santai saja kalau kita ketemu ketika lebaran saat sama-sama pulang kampung. Memang benar kata pepatah “ Wong kuwi sawang sinawang”. Alias rumput tetangga selalu lebih hijau.

Menurutku dan aku sangat yakin bahwa yang namanya rizki, mati, hidup dan jodoh itu hak mutlak Allah. Sebagai manusia kita cuma bisa berusaha, usaha, usaha selalu usaha. Hasil itu milik Allah. “Apa kamu pikir aku nda usaha, Ri???” temanku meradang. “Oalaah Ri, Ri… segala usaha dah ta coba. Dari yang masuk akal sampe yang tidak masuk akal. Dari mandi kembang tujuh rupa dari air tujuh sumur sudah tak coba. Segala resep di majalah mengenai seni berkencan, resep ‘sukses membawa jantung hati ke pelaminan’, resep menaklukan lawan jenis sudah aku praktekan. Untuk menjadi pribadi yang tidak pemilihpun aku coba. Sampai-sampai siapa saja yang mau mengajakku kencan tak ada satupun yang kutolak, bahkan aku dengan semangat juang dan pantang menyerah, dengan gagah berani yang mengajak kencan duluan. Apa aku mesti makan kemenyan? Segala resep telah aku coba. Aku juga sholat tahajud, sholat hajat, sholat dhuha. Segala macam doa-doa, dzikir aku kerjakan. Apa yang salah padaku to, Ri? Kenapa dalam urusan cinta aku tidak juga beruntung.” Kali ini temenku yang sudah termehek-mehek ini berbagi kisah perjalanannya mengejar cinta. Katanya, “ Bayangkan cintaku sering sekali salah orang, salah tempat maupun salah waktu. Pernah aku memendam cinta begitu dalam dan tulus kepada seseorang yang ternyata malah tidak mencintaiku. Atau ada seseorang yang begitu gigih mencintaiku, dan aku tidak mencintainya sama sekali. Yah… cinta yang salah sasaran pokoknya. Ada juga cinta yang tepat mengenai sasaran. Panah amor itu tertancap pada hati yang tepat, waktu yang baik, tetapi tidak terbina dengan baik. Mungkin kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang kerjasama atau kurang cinta dari kedua belah pihak, akhirnya bubar jalan. Ada yang setelah bubar hubungan pertemanan masih berhubungan baik, tetapi ada juga yang setelah bubar jadi saling melukai bahkan jadi musuh. Dalam kisah cinta aku belum beruntung, bahkan sampai usiaku yang menginjak 35 tahun ini aku masih saja salah dalam urusan cinta. Kata orang cinta bisa menjadikan kita matang dan dewasa. Tetapi setelah aku menjadi sangat-sangat matang dalam banyak hal inipun tidak menjamin lancarnya urusan cinta. “

Tentu saja aku tidak tahu dimana yang salah atau yang benar pada temenku, lha temenku itu juga berpenampilan menarik, anggun dan hebat. Baik hati, lembut tutur kata, sopan, pokoknya lulus terbaik di sekolah kepribadian deh. Kalau sudah begini...yah hanya Tuhan yang tahu bukan? Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuknya. “Menurutku yang penting kamu berbahagia. Apa dijamin menikah itu lebih berbahagia? Ada yang menikah tidak berbahagia, ada yang melajang justru berbahagia. Lihat sekarang banyak wanita memilih melajang. Dan mereka berbahagia, sukses, berkarir cemerlang.” Aku berkata sungguh-sungguh tanpa berniat menghibur saja. “Ya jelas aku tidak berbahagia, wong aku pingin kawin kok!” Sahut temenku ketus.

Semua orang berbahagia kalau semua keinginannya terpenuhi kan? Kalau tidak terpenuhi jelas kecewa dan tidak berbahagia. Tapi dalam hidup ini tidak mungkin kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Yang jelas aku yakin Tuhan itu maha adil. Tuhan memberi kita kelebihan disatu sisi tapi juga kekurangan disisi yang lain. Tidak ada manusia yang sempurna. Juga tidak mungkin ada bahagia yang sempurna. Sungguh paling sulit menerima kenyataan apa yang kita inginkan tidak terwujud. Aku juga belajar terus untuk selalu bisa menerima kenyataan. Itu butuh proses dan waktu. Tapi aku percaya sesulit apapun itu kita harus bisa. .

Aku juga belajar untuk bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupku dengan lapang dada, dengan ikhlas. Karena kalau tidak kita coba untuk pasrah bahwa itu adalah salah satu ketetapanNya akan berat banget rasanya. Aku pernah mengalami saat-saat yang berat banget dalam hidupku, rasanya sampai dunia kupikul sendiri. Gimana nda berat ya? Apa aku mampu??? Tidak. Ada temanku yang sangat bijaksana yang mengajariku bahwa ada saatnya kita harus pasrah, karena kita cuma bisa berusaha. Hasil itu punya Allah. Serahkanlah semua pada tanganNya, karena tanganmu sudah tak mampu. Ternyata lebih enteng setelah dicoba. Aku juga belajar untuk mengerti bahwa hidup itu fluktuaktif. Kadang naik kadang turun. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap tetes kebahagian akan terganti dengan kesedihan, begitu juga setiap kesedihan pasti akan berganti dengan riak-riak kebahagian. Musim selalu berganti, roda terus berputar. Aku juga belajar dan terus belajar, terutama disaat gelombang dahsyat menerpaku, saat aku terapung-apung dalam lautan lepas, tiada pegangan, tiada tangan menolongku, aku serahkan kembali semua padaNya. Aku yakin hanya Dia yang mampu menolong, hanya tanganNya yang bisa menolongku. Kembalikan semua padaNya Dia yang menciptakan kita, Dia pula yang akan mengurus kita. Aku yakin Dia tidak akan pernah sekalipun menelantarkan kita.

Hidup itukan terdiri atas potongan-potongan puzzle, setiap potongan seakan berserakan tak terbaca, tetapi sebetulnya potongan-potongan itu adalah bagian-bagian hidup yang harus kita lewati. Sampai akhirnya nanti potongan-potongan puzzle itu akan tertata indah. Itulah gambar hidup kita. Yang penting kita harus yakin bahwa Allah itu tidak pernah keliru dalam menentukan rizki, jodoh dan hidup mati kita. Hanya kita yang terkadang tidak sabar. So… sobatku terkasih. Ada saatnya tangan kita sudah tak mampu, tangan kita terbatas. Serahkan segalanya pada TanganNya. Tangan Yang Maha Besar, Tangan Yang Maha Agung dan Tangan Yang Maha Kuasa.

Sahabatku…terkasih, tercinta aku hanya bisa membantumu lewat setulus-tulusnya doa dalam urusan ini. Karena rejeki, jodoh, hidup dan mati adalah hak mutlak Allah. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya serahkan padaNya.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah diciptakanNya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketentraman hati dan dijadikanNya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaranNya. Bagi orang-orang yang berpikir (Ar-Rum : 21)"


Dalam Bingkai Persahabatan


“Biarlah tapak-tapakku melintasi padang gersang, menembus bukit sunyi. Karena aku yakin setinggi apapun gunung harus kudaki, seterjal apapun jurang yang kulalui akhirnya akan kutemui cinta yang sejati “

Aku tersenyum saat kubaca bait-bait puisi diantara foto-fotoku. Foto-foto itu berisi petualanganku ketika aku masih suka-sukanya naik gunung. Foto saat aku bersorak riang di puncak Gunung Merbabu, saat begitu bangga berhasil duduk di tugu Argo Dumillah di Puncak G Lawu, atau saat aku tersenyum bahagia setelah berletih-letih mencapai puncak G Sindoro dan lain-lain. Banyak foto-fotoku saat-saat aku naik gunung. Semua memberikan potongan-potongan seraut wajah yang bahagia, ceria, gembira tanpa beban. Aku ingat itulah masa-masa aku SMA dan awal-awal kuliah. Foto-foto yang menampilkan seraut wajah yang bersemangat.

Waktu itu aku memang lagi hobi-hobinya naik gunung. Aku ikut Mapala. Dan tentu saja tiada hari libur tanpa dilewati di gunung. Aku yang tomboy, cuek, kurus, badung komplet deh, teramat riang diantara teman-teman yang mayoritas cowok. Tapi sungguh aku senang sekali saat itu. Kami semua kompak dan punya solidaritas yang tinggi. Kami bersahabat tanpa tendensi apapun, saling menerima kekurangan tanpa mengeluh. Aku ingat waktu itu aku yang kurus sering tidak dipercaya bisa sampai ke puncak. Tetapi aku juga terkenal kepala batu, pokoknya harus sampai puncak. Alhasil teman-teman dengan setia menarik dan mendorongku. Begitu hampir sampai puncak, aku selalu diberi kesempatan pertama untuk menjejakkan kakiku di puncak dan akupun berteriak-teriak kegirangan menjadi orang pertama dalam rombongan yang menjejakkan kaki dipuncak gunung. Walau harus merepotkan teman-temanku. Setelah segala prosesi perayaan selesai, aku juga dengan rakusnya menyikat bekal teman-teman. Tanpa ragu-ragu apalagi malu-malu.

Terkadang kalau kondisi keuangan lagi menipis Kami tidak ke gunung, tapi sekedar jalan-jalan ke pantai, ke Kaliurang atau ke desa-desa di daerah Pakem. Yang pasti asyik dan bikin lapar. Aku ingat masa-masa itu Kami selalu kelaparan dan apapun makanannya semua terasa enak. Sampai-sampai Kami menamakan diri pasukan ” Sapu jagad” karena setiap ada makanan selalu licin tandas. Apapun makanannya habis semua, dari Nasi Gudeg, Nasi Padang, Nasi Pecel, ikan bakar, Getuk, Rujak, Indomie Rebus semua tak bersisa bahkan kadang sampai rebutan. Yang paling Kami tunggu-tunggu saat itu kalau salah satu dari teman Kami yang saudaranya punya hajatan. Aduh... asyik sekali. Kami datang dengan semangat juang tinggi hadir di hajatan, demi kecukupan gizi. Yah itulah kelompok anak-anak gunung atau Kelompok Anak Rimba

Di kampusku juga ada kelompok kaum bangsawan. elit, cendekiawan. Aku menamakan kelompok ini sebagai Kelompok Priyayi. Kelompok ini tentu saja tidak rakus seperti kelompok kaum rimba, mereka kaum priyayi yang makan enak di restoran dan kemana-mana bawa mobil sedan. Kegiatan meraka juga berbeda dengan kami kaum rimba, meraka berolah raga dengan berenang dihotel-hotel, main tennis, atau jadi anggota fitness center. Mereka juga pelanggan salon-salon kecantikan elit dan dokter-dokter kulit hebat. Wah aku dulu sering merem melek menyaksikan kaum priyayi ini. Ada juga beberapa kaum priyayi yang dekat denganku. Tentu saja aku tidak bisa sebebas merdeka seperti dengan anak-anak kaum rimba. Dengan kaum priyayi sopan santun, tata krama wajib diperhatikan Kasihan mereka kalau terbawa urakanku. Biasanya dengan kaum priyayi ini acaraku lebih sering sekedar jalan-jalan cari buku, nonton film, atau belanja. Biar tomboy, cuek, urakan aku juga masih mengemari fashion, kesukaanku pada fashion ini yang mengakrabkanku dengan kaum priyayi. Tentu saja aku yang bermodal tipis ini mesti pinter-pinter memadupadankan baju. Atau mesti bergerilya dari penjahit ke penjahit sampai menemukan penjahit yang cocok dengan seleraku, hasil jahitan bagus serta harga terjangkau. Ternyata kaum priyayi ini respek juga dengan seleraku. Karena pada acara tertentu aku juga berusaha tampil gaya meski dengan modal cekak. Dan kaum priyayi suka melirik juga penampilanku. Bahkan ikut menyontek bajuku.

Terus ada juga Kelompok Ibu-Ibu Dharma Wanita, mereka marah-marah tapi mesem-mesem kalau aku panggil begitu. Mereka itu kelompok yang targetnya para Taruna Angkatan Udara. Mereka semangat sekali kalau ada acara pesta-pesta akhir pekan di Komplek Angkatan Udara. Cara mereka berdandan nyaris seragam , sama dengan pasangannya yang berseragam biru tua. Kalau ada acara pesta, ibu-ibu dharma wanita ini, sibuuuuknya minta ampun, dari persiapan baju, luluran, pesan salon dan segalanya. Masalah baju paling heboh tentu saja, segala cara dilakukan, yang dompet tebal dengan gampang belanja kemana-mana, yang dompet tipis tetap berusaha, dari berusaha pinjam, beli baru walaupun harus ngutang tidak masalah, yang penting…jadi ibu jendral. Banyak sahabatku berasal dari ibu-ibu dharma wanita ini, aku juga dengan senang hati membantu mereka bersiap-siap untuk pesta. Kalau jemputan datang aku melepas mereka seperti ibu kos melepas anak-anaknya.

Mereka semua mewarnai hari-hariku. Aku bahagia bisa dekat dengan berbagai kalangan. Menjalin persahabatan tanpa membedakan kelompok-kelompok, walau begitu kelompok anak rimba adalah rumahku. Aku berusaha mengambil sisi baik dari semua teman-temanku. Aku belajar banyak dari mereka. Akhir-akhir masa kuliahku dari foto-fotoku, aku mendapati diriku lebih feminim, mengganti sepatu ketsku dengan sepatu model pumps, menganti t-shirtku dengan blouse, mulai pakai lipstik dan bedak. Wow..ternyata pengaruh kaum priyayi dan ibu-ibu dharma wanita ini banyak mengubahku. Aku juga mulai jarang naik gunung, keluyuran, dan yang tak pernah kusadari aku juga jadi menjaga sikap. Lebih menjaga ekspresi. Aku tidak pernah sadar itu, yang jelas aku jadi makin tertutup dan susah mengekspresikan perasaan. Aku rindu teman-teman rimbaku, ternyata bersama mereka aku bisa melepaskan bebanku. Tapi aku juga berterima kasih pada ibu-ibu dharma wanita dan kaum priyayi. Mereka mengajariku untuk lebih tahu tata krama, dan etika.

Kemanakah sahabat-sahabatku itu??? Kami bercerai berai begitu sejak mulai KKN, karena kami harus berangkat dengan beda teman-teman lain fakultas, lain angkatan dan bercerai berai dalam kabupaten atau kecamatan yang berbeda. Diantara teman-teman KKN kutemukan sahabat-sahabat baru yang lebih heterogen lagi. Dari kelompok priyayi, kelompok rimba, kelompok ibu-ibu dharma wanita, kaum feminis sampai kaum ilmuwan juga kudapati. Kami ternyata malah berteman lebih intens walaupun kenal dalam waktu singkat. Mungkin karena kami harus menjadi satu keluarga yang mau tidak mau harus beradaptasi. Aku belajar untuk lebih mengenal karakter teman-teman lebih mendalam. Karena setelah aku tahu lebih dalam, ternyata apa yang nampak diluar itu tidak selalu sama dengan yang sebenarnya. Aku punya teman yang penampilannya macho sekali, perut six pack, rajin fitnes, segala atributnya berkesan jantan, tetapi aku hampir mati tercekik menahan tawa ketika tahu bahwa teman macho-ku ini ternyata sangat takut alias phobia pada kupu-kupu. Ya ampun...kupu-kupu yang indah, gemulai itu sanggup membuatnya meringkuk-ringkuk dibawah meja saking takutnya. Atau temanku yang luar biasa pendiam seperti batu ternyata bisa merepet seperti petasan cabe rawit ketika tersinggung. Hebatnya biar terdiri dari berbagai macam ragam karakter manusia kita semua bisa kompak, bersahabat bisa menerima kekeurangan masing-masing. Kalau akhirnya kamu harus berpisah lagi, karena perjalanan hidup masing-masing menghendaki begitu. Semua datang dan pergi, silih berganti. Meninggalkan begitu banyak cerita yang manis, mengesankan.

Nasib orang tidak pernah ada yang tahu, begitu juga nasib kami, begitu lulus kami lebih tercerai berai lagi. Ada yang mendarat empuk menjadi nyonya dr. X, jadi nyonya kapten Y atau jadi nyonya Mr Z, banyak juga yang dengan semangat emansipasi RA. Kartini memutuskan berkarir cemerlang dulu baru berpikir menjadi nyonya. Banyak juga karena belum dapat gandengan mau tidak mau cari kerja dulu sembari cari suami. Tetapi ada juga yang apes tidak dapat pekerjaan, harus menganggur berlama-lama, dan gandengan juga belum ketemu. Nasib tidak bisa ditentukan dengan cemerlang otak maupun wajah yang cemerlang. Ada temanku yang dari dulu terkenal berotak encer dengan Indeks Prestasi diatas 3, punya wajah ayu priyayi dan perawakan langsing, luwes seperti penari keraton, ternyata belum juga dapat pekerjaan dan juga gandengan. Ada juga yang berwajah serta penampilan sederhana juga otak yang sedang-sedang saja menjelma jadi wanita sukses berkarir cemerlang, Bahkan ada temanku dari kelompok rimba abadi, berakhir jadi istri dan ibu yang sangat kompeten mengurus anak-anaknya. Nasib memang seperti roda berputar kadang diatas kadang dibawah. Aku juga mengalami putaran roda-roda nasib yang tak kunjung mereda, setelah hampir dilanda tragedi krisis percaya diri yang dahsyat karena kelamaan menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sangat aku syukuri, aku nikmati, dan mengembalikan hari-hari indah dalam hidupku. Walaupun tidak bergaji dahsyat tapi bisa mencukupi kegemaranku akan fashion dan jalan-jalan. Dan sekian lama keluyuran kesana-sini, muter-muter kemana-mana akhirnya kutemukan gandengan juga yang sekarang dengan sukses membuatku jadi ibu beranak tiga.

Dari perjalanan hidupku yang kadang tak tentu arah dan angin ini aku juga punya sahabat yang menyertaiku sejak semasa kuliah, mereka kukenal sambung menyambung tanpa aku sadari. Kami bersahabat terus bergulung-gulung dalam menghadapi gelombang hidup yang kadang naik kadang turun. Kami saling mendukung, membantu. Menjadi suporter satu sama lain. Persahabatan kami lintas umur, lintas kampus, lintas almamater dan lintas daerah. Tetapi persahabatan kami tetap intens dalam kondisi apapun, dalam jarak jauh maupun lokal. Persahabatan dan kedekatan kami bermula karena kami bernaung dalam horoskop yang sama. Kami berada dalam naungan rasi bintang Aries. Mungkin karena merasa berkarakter sama kami menjadi langsung dekat satu sama lain. Kami merasa wanita-wanita Aries, adalah orang-orang yang keras kepala, suka melawan arus, impulsive, moody, jutek, ketus dan yang terdahsyat suka dibilang berlidah tajam. Yah berlidah tajam sebagai ekspresi kejujuran dan keterus-terangan kami, itulah dalih kami dalam membela diri. Selain kekurangannya itu kami merasa orang-orang Aries ulet, pantang menyerah, optimis, dan setia kawan. Kami juga merasa orang-orang Aries hidupnya tidak pernah mudah. Banyak rintangan dan kendala yang harus kami lewati. Mungkin karena semua ini kami jadi bersahabat.

Bagiku sahabat adalah harta yang tak akan terganti. Aku tidak melihat dari kalangan, jenis atau apapun asal sahabatku. Persahabatan tidak pernah mengenal garis dan batas. Persahabatan akan selalu mampu melewati dimensi apapun, mampu merentang jarak dan waktu. Dalam persahabatan tersimpan segala kemurnian, keindahan kasih dan sayang. Dalam persahabatan ada saatnya menerima ada pula saatnya memberi. Seperti sebuah lagu "Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu " Semoga dalam perjalanan hidupku, aku juga memberi manfaat bagi sahabat-sahabatku. Yang jelas aku menyimpan kasih dan cinta untuk sahabat-sahabatku.

Special untuk sahabatku yang lama menghilang: Novita (Mbak Ita) dari Bojonegoro, Jatim & I Made Ayu Santi (Santi) dari Jakarta dimanapun kamu berada aku menyimpan kasih dan sayang dalam hati. Thanks atas hari-hari indah yang telah kamu berikan padaku.

Pondok Rani



SEPOTONG CERITA SEPOTONG KENANGAN

Dunia maya, memang lebih mudah dijangkau ketimbang dunia nyata. Setidaknya dalam dunia maya itulah aku kembali bertemu dengan teman-temanku yang telah lebih dari 15 tahun terpisahkan. Teman-teman semasa di TPB IPB. Teman-teman dari Pondok Rani Yah...kemajuan teknologi benar-benar menjadikan dunia terasa sempit. Kita sanggup menjangkau dunia hanya melalui sepotong Blackberry yang ukurannya tidak lebih besar dari kotak makan anakku. Aku kembali bertemu teman-temanku walau hanya melalui facebook Senang, kangen, dan entah kenapa rasanya kembali menjadi muda.

Pondok Rani, begitulah nama sebuah asrama putri berlantai dua diujung jalan Malabar di kota Bogor. Bangunan Pondok itu berbentuk U dengan ruang kosong ditengahnya. Ruang kosong itu kemudian didirikan sebuah bangunan kecil yang difungsikan untuk musholla. Asrama itu berisi kurang lebih 19 orang mahasiswi, ditambah 2 orang pembantu rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah, mencuci, memasak sekaligus ibu asrama. Seingatku dulu, kami dikenai uang makan bulanan yang kemudian dikelola oleh kami dengan pembagian jadwal mengatur menu bergiliran setiap minggunya.

Setiap kamar di Pondok Rani diisi dua orang mahasiswi. Kami semua satu angkatan di TPB, Institut Pertanian Bogor. Kamar paling ujung dilantai bawah adalah Isna dari Madiun dan Yenny dari Ponorogo. Kamar disudut dekat kamar mandi dihuni Lia dari Cirebon dan Ririn Lewa dari Makasar, kamar sebelahnya Lisa dan Ririn Ros keduanya dari Jakarta, sebelahnya dihuni Mbak Risma orang Surabaya yang ambil Strata Dua di IPB. Terus kamar sebelahnya aku dengan Lenny Siregar dari Medan, terus Santi dari Jakarta, Rita dari Padang dan Nina dari Pare-Pare, sebelahnya disudut digunakan untuk dapur di depannya kamar mandi, disebelah kamar mandi di ujung yang satunya adalah Tanti dan Neni keduanya dari Jawa Timur. Kemudian dilantai atas ada Mona dari Ambon, Maria, Icha, Diana dari Jakarta dan Vivi dari Toraja. Mungkin karena kami satu angkatan, kami menjadi sangat kompak.

Banyak peristiwa dan kejadian yang aku alami selama tinggal di Pondok Rani. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang sedih, kadang gembira mewarnai hari-hari kami. Di Pondok Rani aku juga mengalami banyak hal, yang memberiku banyak hikmah di kemudian hari. Aku merasa menjadi lebih sayang kepada Ibuku setelah aku jauh dari Beliau, karena dulu waktu SMA aku jarang sekali bisa akur dan mengerti ibuku. Dalam pikiranku kala itu ibuku sungguh-sungguh tidak adil padaku. Ibuku lebih menyayangi kakak dan adikku, karena itu aku lebih banyak main keluar dengan teman-temanku. Dan baru setelah aku tinggal di Pondok Rani, jauh dari kampungku, jauh dari ibuku, baru aku menyadari betapa ternyata aku menyayangi ibuku.

Aku juga teringat waktu di Pondok Rani aku suka jahil, terutama dengan mbak Risma, dalam pikiranku waktu itu mbak Risma sangat ‘jaim’ dan sombong. Karena itu aku suka banget jahil. Kalau giliranku sedang mengatur menu makanan, aku tahu mbak Risma alergi ayam. Maka selalu menu yang aku susun bertema ayam. Duh...kebayangkan jahilnya aku. Maafkan aku ya.... Mbak. Dimanapun mbak Risma berada saat ini aku sungguh-sungguh minta maaf akan kejahatanku kala itu. Setelah beranjak dewasa baru aku mengerti, bagaimana kami bisa akrab, saat itu kami baru lulus SMA dan jadi mahasiswi TPB, dengan aroma remaja masih teramat kental mewarnai hari-hari kami. Sementara mbak Risma selain sudah jadi dosen, juga sedang ambil S2. Jarak usia, kedewasaan, pendidikan, dan latar belakang itulah yang menyulitkan kami jadi bisa berteman akrab. Baru aku sadari juga Mbak Risma sungguh-sungguh ‘kakak’ kos yang amat toleran, yang tidak pernah marah walaupun kami berisiknya minta ampun, yang tidak pernah protes kami teriak-teriak disaat mbak Risma ujian. Mbak Risma luar biasa tabah dan tangguh menghadapi kami kancil-kancil yang kurang ajar sekali waktu itu. Sekali lagi maafkan aku ...mbak. Sungguh-sungguh aku minta maaf atas kejahatan yang terkoordinir itu. Manusia berproses, tumbuh, dan berkembang. Begitu pula aku, aku menyadari kekeliruanku, kesalahanku dan kejahilanku. Aku berharap tidak ada kata terlambat untuk minta maaf.

Setelah kenaikan tingkat dari TPB kami kancil-kancil Pondok Rani itu bercerai berai menjemput nasib, dan mimpi masing-masing. Selain banyak yang berubah jurusan, ada juga yang pindah kuliah. Aku termasuk salah satu yang pindah saat itu, selain aku terpaksa masuk di jurusan yang aku tidak suka, aku juga merasa lebih nyaman dekat dengan ibu. Kemudian aku pindah ke Yogya. Apapun yang terjadi dalam hidupku aku percaya karena ulah dan perbuatanku sendiri. Terkadang kejahilan kita di masa lampau terbalas di masa kini. Aku juga percaya bahwa jalan yang terjal, berliku, berbatu, adalah jalan yang menjadikan aku lebih kuat, dan lebih tangguh. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, sagala sesuatu akan terasa indah pada waktunya. Seperti akhirnya aku menyadari bahwa hari-hari di Pondok Rani memberiku banyak hikmah.

Thanks…untuk teman-teman Pondok Rani. Banyak kenangan di Pondok Rani yang membawa perubahan yang lebih baik untukku. Sungguh tak pernah kusangka bakal ketemu lagi. Setelah lebih dari lima belas tahun terpisahkan. Walau saat ini baru terwujud di dunia maya. Salam kangen.